Sudahkah anda menonton film berjudul “The Matrix”? Sebuah karya produsen film dari Hollywood, ataupun membaca novelnya yang beredar? Kalau belum, mungkin ada sisi positifnya jika anda membaca atau menonton karya itu, jika dilihat segi filsafatnya. Bagi yang sudah melihat karya tersebut, adalah sebuah anugrah jika anda bisa mengambil hikmahnya―tentunya selain aliran jalan cerita dan efek-efek animasinya. Hikmah yang saya maksud seperti yang sebut di atas adalah sebuah filosofi dibalik skenario film The Matrix. Kalau anda masih belum bisa mengambil sebuah hikmah di balik film The Matrix, maka saya dalam tulisan ini mencoba untuk mengungkap filosofi (pemikiran) di balik skenario film The Matrix.
Sebelum mengungkap filosofi di balik film ini, saya coba mengulas singkat jalan cerita skenario film The Matrix. Skenario film ini bermula ketika seorang hacker yang dikenal sebagai Neo ingin mencari kebenaran sebenarnya apa sedang terjadi di dunia ini yang kadangkala ia rasakan hidupnya berjalan kadang seperti mimpi dan kadang adalah memang kenyataan di mana antara mimpi dan kenyataan saling bersambung, dan juga menurutnya ia hidup di masa sekitar akhir abad ke 20. Karena interaksinya dengan dunia cyber, seorang bernama Morpheus bersama kelompoknya ingin menolong Neo agar mengetahui hakikat sesungguhnya hidup yang ia jalani sekarang.
Singkat cerita Neo akhirnya bertemu Morpheus, dan Neo akhirnya setuju untuk mengikuti kelompok Morpheus agar mengetahui rahasia di balik keanehan hidup yang dijalaninya. Setelah itu Neo akhirnya mengetahui hakikat hidup sebenarnya yang membuatnya terkejut tak percaya bahwa sebenarnya ia hidup di sekitar abad ke 22―di mana masa itu bumi telah dikuasai mesin cerdas bernama Matrix yang menguasai manusia dengan memberi mesin simulasi (mimpi) untuk membuat dunia virtual reality (realita maya) bagi manusia semenjak bayi sampai mati, di mana mesin Matrix selalu mengawasi kehidupan manusia agar tidak mengetahui hakikat rahasia hidupnya. Tujuan mesin Matrix tidak lain adalah untuk kelangsungan hidupnya sebagai mesin yang memerlukan panas tubuh manusia sebagai sumber energi (baterai). Itulah inti dari pokok yang akan saya coba bahas dalam tulisan ini, yaitu tentang hakikat kehidupan yang kita jalani sekarang apakah bisa disamakan dalam sudut pandang yang sama dengan apa yang dikisahkan film “The Matrix”. Marilah kita sama-sama memikirkannya.
Menurut penemuan-penemuan ilmiah teknologi modern menunjukkan bahwa ‘dunia luar’― alam semesta ―yang kita rasakan sebenarnya adalah hasil dari kerja otak yang telah distimulasi oleh sinyal-sinyal elektrik yang dikirimkan oleh organ-organ indera kita. Marilah kita simak bagaimana indera kita bekerja. Sebagai contohnya, kita teliti bagaimana kita melihat. Pekerjaan melihat berlangsung secara progresif. Sekumpulan cahaya (foton) berjalan dari objek ke mata melalui lensa yang berada di depan mata di mana mreka direfraksikan dan jatuh terbalik pada retina yang terletak di bagian mata. Di sini, cahaya yang menimpa retina diubah menjadi sinyal-sinyal elektrik yang kemudian ditransmisikan oleh neuron ke sebuah titik kecil yang disebut sebagai pusat penglihatan di belakang otak. Pekerjaan melihat sebenarnya berlangsung di titik kecil ini yang gelap gulita dan terisolasi dari cahaya. Pekerjaan melihat ini persis sebagaimana cam recorder bekerja untuk merekam ‘dunia luar’ lalu ditampilkan dalam sebuah layar (pusat penglihatan). Begitu juga ‘pekerjaan’ yang lain sebagaimana kita mendengar suara, merasakan rasa di lidah, mencium bau dan merasakan panas, dingin, lembut, kasar dan rasa sakit pada tubuh. Setiap indera berfungsi sebagai pemasok informasi kepada otak. Sedangkan otak berfungsi sebagai ‘alat perekam’ semua informasi itu lalu ditransmisikan oleh neuron ke titik-titik pusat penglihatan, pusat pendengaran, pusat penciuman, pusat pengecap rasa, pusat perabaan dan pusat rasa lain―misalnya rasa lapar, haus, kenyang dan kembung. Jika salah satu atau sebagian syaraf-syaraf titik-titik pusat penginderaan ini putus atau rusak maka kita tidak akan merasakan dunia sebagaimana yang kita anggap ada! Artinya bahwa keseluruhan dunia yang kita rasakan ini―yang sebenarnya berada di dalam otak kita yang berupa sinyal-sinyal listrik― tidak lebih daripada dunia persepsi. Menyadari hal ini, Bergson dalam bukunya Matter and Memory (Zone Books, New York, 1991), dalam kesimpulannya mengatakan: “Dunia dibangun dari gambaran-gambaran, gambaran-gambaran ini hanya berada dalam kesadaran kita; dan otak adalah salah satu dari gambaran-gambaran ini”.


Komentar Terakhir